Ada Sebab Pasti Ada Akibat

Jika sampeyan ngisi bengsin ke pom bengsin yang katanya “Pasti Pas” tapi harganya gak pernah Pas karena selalu naik terus itu, sampeyan pasti akan selalu ketemu dengan tulisan “Dilarang Merokok” atau “No Smoking”. Buat kang Durmogati yang jebolan SMA Inpres, tulisan itu gampang dipahami. Namun buat kang Durmogandul yang cuma jebolan SD karena utheknya agak jebol itu, tulisan itu susah dimengerti.


“Lha iya tho kang, ha wong udud saja kok dilarang di POM bengsin. Itu kan hak asasi kita buat nyedot nikotin sepuas kita. Ya terserah kita tho….” Demikian kata kang Durmogandul pada kang Durmogati.

“Hak asasi gundhulmu mlocot itu, “ sergah kang Durmogati. “Ha genah kelakuan kamu itu membahayakan banyak jiwa. Lha kalo yang melayang cuma jiwamu karena dibrakoti nikotinmu itu ya gak masalah. Tapi kalo menyangkut keselamatan orang banyak, hanya karena nuruti nepsu ududmu yang kliwat-kliwat itu, ya tentu saja gak bisa dibiarkan.”

“Halah kang… Apa sudah ada data statistik yang akurat, bahwa ngudud di POM bengsin itu pasti bisa menyebabkan kobongan? Ha wong saya sledap-sledup berulang kali di POM bengsin juga gak pernah kobongan. Saya kira kok belum ada data yang mencatat adanya kobongan yang disebabkan udud di POM bengsin. Kalaupun ada cuma sedikit, dan itu tak menunjukkan korelasi positip antara kebakaran dan ngudud…” kata Durmogandul mengelak.

“Wooo…dasar cah slewah. Lha apa kamu harus nunggu ada data bahwa 8 dari 10 POM bengsin njeblug gara-gara ududmu…?? Kalau yang njeblug paru-parumu sih sukur ngalkamdulilah…!” bentak kang Durmogati.

Begitulah tipikal kang Durmogandul. Dan sayangnya tipikal orang seperti kang Durmogandul itu banyak berseliweran di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Lha kalo si Durmogandul itu cuma jebolan SD, dengan gampangnya bisa dibantah gabrulannya. Tapi kalo Durmogandulnya bertitel S3, diomongi sampai meniren malah mbantah dengan mengajukan data-data statistik yang absurd.

Sebagaimana kejadian di negeri Genthonesia, di saat ada sekumpulan pemuda mengundang artis nyakdhut yang jogedannya pating plengkang. Si artis tidak menyadari bahwa jogedannya itu ibarat udud tegesan yang tersulut di sekitar uap bengsin yang siap menyambar. Begitu ada satu uap bengsin njeblug, menyambar slomotan percikan api udud tegesan itu, si artis tiba-tiba berubah heran dan gak nemu hubungan sebab akibat antara jeblugan uap bengsin dengan percikan api yang dikirimnya. Tiba-tiba dia berubah menjadi seperti si Durmogandul yang memang hanya jebolan SD itu.

Yang namanya uap bengsin, tentu saja tidak keliatan oleh mata. Karena tidak keliatan, maka gak bisa diukur oleh statistiknya mister Durmogandul yang konon canggih itu. Banyak orang yang gak paham bahwa, baik laki maupun perempuan itu bisa berperan sebagai uap bengsin dan percikan api. Di saat ada ulama yang menasehati agar para wanita menutup area uap bengsinnya agar terhindar dari amukan kantong sperma yang uapnya siap melanglang buana, malah dikata-katai.

“Itu dasar kyainya saja yang suka ngeres. Kalo sudah ngeres, asosiasinya ke mana-mana. Lihat pepaya mateng saja, kayak lihat kantong ASI… dasar ngeres!!”

Orang tipikal Durmogandhul itu gak paham, bahwa yang namanya asosiasi itu susah mengaturnya. Memang betul, bahwa ada orang yang asosiasinya liar. Melihat pisang saja terbayang Mr. P, melihat hamburger terbayang Mrs. V, melihat pepaya terbayang kantong ASI. Tapi siapa yang bisa ngatur asosiasi masing-masing pribadi??? Apalagi yang diumbar-umbar dan diplengkang-plengkang itu bener-bener Mrs. V dan kantong ASI. Mengumbar saluran air seni atas nama seni.

Herannya RUU anti pornografi dan pornoaksi tak kunjung diundangkan. Masih menunggu 8 dari 10 kantong sperma njeblug tersambar slomotan si Putri Plengkang. Tersandung oleh perdebatan definisi. Sedangkan UU terorisme dengan mudahnya diundangkan. Padahal definisi terorisme dan pornografi itu sama-sama gak jelasnya. Definisi terorisme dan pornografi sama-sama tergantung dari sudut pandang yang memandang. Tapi UU terorisme tak melewati perdebatan panjang definisi untuk diterbitkan, karena sedemikian ketakutannya orang-orang melihat dan mendengar kata bom dan bahan peledak. Sedangkan bom kebejadan moral, bom kelahiran anak haram, bom perzinaan masal dan bom kehancuran mental bangsa dianggapnya bukanlah ancaman serius. Disini orang yang mengaku pintar gagal melihat hubungan sebab akibat. Pengikut kang Durmogandhul makin meningkat. Mungkin sampeyan salah satu di antaranya. Semoga saja tidak…..


Pituture mbah Dipo

0 comments: